Sesepuh

1. Sesepuh Pemula – Ki Goplo (Ki Suling)

1-ki-goplo
Ki Goplo adalah salah Seorang siswa dari perguruan Bulan Sabit atau Paguron Arda Candra Cabang Seruling Dewata yang masih hidup, ketika terjadi perang puputan antara Perguruan Arda Candra dengan Perguruan Surya. Perlu diketahui bahwa di Bali Dwipa pada jaman Bali Lawas terdapat 2 (dua) buah Perguruan Besar yaitu Paguron Ardha Candra dan Paguron Surya. Paguron Surya memiliki 11 Cabang sedangkan Paguron Ardha Candra memiliki 12 cabang.Paguron Suling Dewata adalah salah satu cabang dari Paguron Ardha Candra, dan perlu juga diketahui bahwa kedua perguruan besar ini, Paguron Ardha Candra dan Paguron Surya memiliki hubungan yang kurang harmonis dan terjadi dendam secara terun termurun yang berakhir dengan perang puputan diantara ke dua Perguruan besar tersebut yang mengakibatkan musnahnya kedua Perguruan besar tersebut, Perang Puputan selama tujuh hari siang dan malam dan terjadi dibeberapa tempat di Bali Dwipa dan diakhiri dengan perang Puputan di Puncak Gunung Batur dimana kedua perguruan besar tersebut menghimpun kekuatan tenaga yang Maha dahysat, Paguron Surya melahirkan himpunan yang diberi nama "Nadwityam Suryam" atau "Tiada Keduanya dibawah Sang Surya", sedangkan Paguron Ardha Candra melahirkan himpunan yang diberi nama "Surya Daryam Candra Kertalam" atau "Matahari Terbit Rembulan Muncul" semua pertapa Paguron Surya meninggal dalam perang di Puncak Gunung Batur tersebut, sedangkan pertapa dari Paguron Ardha Candra ada seorang yang masih hidup dengan luka yang sangat parah, pertapa tersebut bernama I Goplo. Ki Goplo yang nantinya dikenal dengan sebutan Ki Suling (Ki adalah sebutan kehormatan untuk seorang Maha Guru).

I Goplo atau Ki Suling dengan Luka yang teramat parah pada saat terjadinya Perang Puputan, kembali ke pertapaannya yang bernama Pertapaan Gunung Bulan (Candra Parwata), di puncak Gunung Batukaru paling barat (salah satu dari 7 puncak Gunung Batukaru). Di pertapaan Gunung Bulan inilah Ki Suling memendam diri selama puluhan Tahun untuk mengobati dirinya dan memperdalam ilmu silatnya, dan selama itu pula di Bali Dwipa , dunia persilatan mengalami kehampaan (masa suram).Ki Goplo atau yang dikenal dengan sebutan Ki Suling, menutup diri dari dunia luar dan melarang para yoginya untuk turun gunung, sementara orang luar pun tidak ada yang berani naik ke Puncak barat Gunung Watukaru, dan tidak ada satupun pula pesilat asli Dwipa dengan berbagai ilmu silat yang dimilikinya berhasil naik ke puncak barat, karena setiap orang yang mencoba naik akan dibuat tidak berdaya oleh para Yogi Ki Suling dan menaruhnya kembali di kaki gunung. Hal ini pulalah yang menyebabkan Pertapaan Candra Parwata menjadi terasing dan keberadaanya hampir tidak ada yang mengetahuinya. Salah satu keanehan dari Puncak Barat Gunung Watukaru adalah terdengarnya alunan suling yang sangat merdu setiap bulan Purnama selama satu hari satu malam, alunanya begitu lembut, sejuk, dan tenang yang bisa didengar diseluruh Jagat Bali Dwipa, dan masyarakat Bali Dwipa menyebutnya dengan Alunan Suling Dewa atau Kumandang Suling Dewata. Beberapa yogi dan Yogini yang dibina oleh Ki Suling adalah : Ki Bitaksa, Ki Angsang, Ki Kepel, Ki Bintara, Ki Wangsing, Ki Nanggal.


2. Sesepuh Generasi I – Ki Byanlu Syamar (Ki Budhi Darma)

2-ki-budhi-dharma
Pediksan Sesepuh tahun ke 63 bulan ke 11 hari ke 26 ( caka warsa 463 / 542 masehi )Pada abad ke V caka datanglah ke Bali Dwipa seorang pendeta Budha ahli silat yang masih muda dari Jambu Dwipa yang bernama Ki Byanlu Syamar atau Pangeran Jayawarman atau Ki Budhi Darma, Budi Darmo dan di Bali dikenal dengan sebutan Biksu Dharmo. Ki Byanlu Syamar menguasai Kundalini, Ilmu Kundalini Saktinya sangat sempurna yang di pelajarinya selama 40 tahun dari seorang Maha Guru di Jambu Dwipa yang bernama Swami Prajnatara.

  • Ki Budhi Dharma adalah seorang pangeran di tanah Jambu Dwipa, seperti yang dituturkan dalam Parampara Perguruan Seruling Dewata :
    Nama kecilku adalah Byanlu Syamar. Aku dilahirkan di sebuah kerajan kecil di Jambu Dwipa (India), tepatnya di suatu daerah yang indah, subur menghijau yang bernama Kanchipuram – Baramon dekat Madras . Raja Sugandha adalah Ayahku. Aku adalah putra tertua yang selalu disitimewakan.
  • Bahkan dikala berusia enam belas tahun dengan upacara meriah Aku dinobatkan menjadi Pangeran mahkota dengan Nama baru JAYA WARMAN. Di kala itulah datang seorang pendeta dengan prabawa kesucian yang luar biasa, yang ucapannya mampu menentramkan hati nuraniku, aku merasa tentram berada didekatnya. Dikala mendengar berita yang menggetarkan seluruh istana Adikku minggat meninggalkan istana, karena ingin menjadi Putra Mahkota yang nantinya menggantikan ayahanda menjadi seorang raja, akhirnya bulatlah tekadku, demi kasih saying kepada adikku, maka dihadapan pembesar istana, kalau adikku ditemukan akan kuberikan gelar Putra Mahkota yang kusandang, Adapan tujuannya datang ke Nusa Ning Nusa (Nusantara )i adalah untuk menyebarkan agama Budha.
  • Dengan sedih hati aku meninggalkan kerajaan tempat kelahiranku. Pergi merantau kekerajaan lain sambil menyebarkan ajaran Sang Buddha. Namun selalu saja ada utusan prajurit negeri ku yang ingin membunuhku secara diam-diam, akhirnya aku terpaksa berkelana lebih jauh lagi meninggalkan Jamu Dwipa ( India ) tujuanku satu yaitu Nusa Ning Nusa atau Nusantara (Indonesia).
  • Aku teringat perkataan para pengelana yang pulang dari melanglang bhuana bahwa Nusa Ning Nusa (Nusantara atau Indonesia) adalah Gudangnya orang-orang suci dan orang-orang sakti, bahkan para pengelana ke Nusa Ning Nusa, tapi tidak sampai di watukaru maka sia-sialah perjalanannya.
  • Dalam perjalanan ke Nusa Ning Nusa ( Nusantara) berbagai daerah baru dilewati setiap daerah yang kulewati aku menyebarkan ajaran sang Buddha, banyak para penjahat yang telah ku temui kukalahkan dalam pertarungan baru mau menerima ajaran sang Budhha dan akhirnya mendapatkan kesadaran dan menjadi orang baik. Di Bali Dwipa, Ki Budhi Dharma bertemu dengan Ki Suling yang ahli Filsafat Seruling Dewata, juga ahli Ilmu Silat dan juga ahli Pengobatan. dan keduanya sempat berdiskusi dan dari hasil diskusi tersebut Budhi Darma merasa tunduk kepada kemampuan Ki Suling dalam lmu Silat, Ilmu Pengobatan dan terutama Ilmu Filsafat Kebajikannya,sehingga akhirnya Budhi i Dharma sendiri akhirnya berguru kepada Ki Suling. Ki Budhi Dharma sendiri diselamatkan oleh Ki Suling setelah bertempur dengan empat pendekar pilih tanding yang mengangkat diri mereka sebagai "Empat Pesilat Tanpa Tanding" pada abad ke 4 tahun Caka 96 ( sekitar 474 masehi ) karena satu sama lainnya memiliki kemampuan yang sama pada saat bertarung memperebutkan Gelar "Kesatria Lelanganing Jagat", Gelar Kesatria Lelanganing Jagat ini pada jaman dahulu diperebutkan oleh semua pesilat di Bali Dwipa setiap tiga tahun sekali dan pemenangnya disamping mendapat julukan "Kesatria Lelanganing Jagat" juga berhak mendapatkan "Mustika Matahari "yang merupakan Peninggalan " Paguron Surya ", ke empat pendekar tersebut adalah : I Manasara, pesilat dari Gunung Batur, I Pisana, pesilat dari Gunung Agung, I Krengga, pesilat dari puncak kedua Gunung Watukaru, dan I Cangkreng, pesilat dari Pulau Karang di selatan Bali Dwipa. Keempat pesilat tanpa tanding inipun berhasil dikalahkan oleh Ki Suling , serta memberikan nasehat rohani kepada keempat pesilat ini sebelum mereka bertapa seumur hidup serta tidak akan mencampuri urusan dunia persilatan .
  • Setelah lama kami berdua berdiskusi masalah ILMU KEBAJIKAN – ILMU SILAT- ILMU PENGOBATAN aku benar-benar mengakui kehebatan kemampuannya, jauh diatas kemampuan guru-guru ku sebelumnya, inilah yang selama ini kucari, aku telah sampai pada ujung harapan maka, tanpa buang waktu segera aku memohon agar diterima sebagai muridnya. dengan senag hati menerimaku sebagai muridnya yang terakhir, pada saat itu juga mahaguru Ki Suling mengajariku TIRTA PRANAYAMA atau Ilmu Pernapasan Air dan SAHASRA KARTIKA WIKRIDITA atau ilmu Langkah Seribu bintang, serta dihadiahi sebuah suling bamboo, dia merasa sudah tua, tidak mampu lagi mengajar dengan baik, maka setelah menguasai kedua ilmu yang diajarkan aku disuruh ke GOA SUNIA MANDALA dan belajar sendiri, disana sumbernya ilmu Seruling Dewata Budhi Dharma akhirnya berhasil menguasai ke 72 macam ilmu silat dari Perguruan Bulan Sabit Cabang Seruling Dewata, serta mendirikan Perguran Silat Baru di Bali Dwipa pada abad V Caka, tahun ke 63 ( 641 Masehi ) , bulan ke 11 hari ke 26 dengan nama Perguruan Seruling Dewata dengan Ki Budhi Dharma sebagai Ketua Angkatan I . Para Siswa yang berlatih bersama di bawah bimbingan lansung Ki Byanlu Syamar dan menjadi pemimpin golongan adalah : Ki Mudra, Ki Madra, Ki Druma, Ki Sikapa, Ki Kedung, Ki Rencang, Ki Buntar, Ni Ambarawati. Ki Budhi Dharma menciptakan dua buah ilmu silat tanpa wujud yang Maha Dahsyat yang salah satunya adalah Ilmu Silat Maha Maitri atau Ilmu Silat Maha Cinta Kasih .

Berikut sepenggal kisah masa kecil Sesepuh Generasi Ke II Ki Budhi Darma, seperti yang dituturkan oleh Ki Hanuraga :

Ketika masa kecil bergelimang kemewahan Tidak pernah ada permintaanku yang tidak mampu dipenuhi orang tuaku, karena karmaku aku dilahirkan di istana kerajan, Ayahku adalah seorang raja, dan aku adalah anak sulung yang suatu saat akan memerintah negeri ini. Nama kecilku adalah Byanlu Syamar. Aku dilahirkan di sebuah kerajan kecil di Jambu Dwipa ( India), tepatnya di suatu daerah yang indah, subur menghijau yang bernama Kanchipuram – Baramon dekat Madras. Raja Sugandha adalah Ayahku. Aku adalah putra tertua yang selalu isitimewakan. Kemanapun aku pergi di kawal banyak prajurit, yang selalu merasa khawatir keselamatan ku, tidak banyak anak-anak sebayaku yang berani bermain denganku. Apa yang kuinginkan selalu dipenuhi, banyak anak yang dihukum, potong tangan, potong kaki, bahkan dihukum mati hanya karena berani berebut sesuatu dengan ku. Apakah kehidupan seperti ni menyenangkan? Apakah keadaan seperti ini yang selalu ku harap? Semuanya itu sangat membosankan, aku ingin yang wajar-wajar saja, akupun sedih menyaksikan teman sepermainanku dihukum berat. Setiap hari aku belajar sastra , kanuragan dan ilmu perang suatu ketrampilan yang harus di kuasai oleh seorang raja nantinya. Dalam usia dua belas tahun aku telah menguasai dua puluh sembilan ilmu silat India kuno. Ilmu silat Kalarivayit, Ilmu Silat Mathavan, Ilmu Silat Naghabhavana, Pancakadka, Ksatria Dandha, Gandha Hanoman, Pancapana ilmu memanah yang dahsyat dan sebagainya. Dalam belajar sastra, kanuranagn dan ilmu perang Akupun tidak merasa tentram, banyak Ki Hajar sastra dan Ki Hajar Wira, Guru yang mengajarkan membaca, menulis dan surat menyurat, serta olah kanuragan berganti-ganti, tidak jarang seorang guru yang dihukum mati hanya kerna kemajuan belajarku agak lambat karena kejenuhan dan kemalasanku. Aku merasa sedih dan sangat berdosa, banyak kematian sia – sia karena kesalahanku, lama kelaman rasa berslaah dan berdosaku semakin menumpuk menyebabkan aku menjadi seorang pendiam dan merasa bosan atas segalanya. Bahkan dikala berusia enam belas tahun dengan upacara meriah Aku dinobatkan menjadi Pangeran mahkota dengan Nama baru JAYA WARMAN . Di kala itulah datang seorang pendeta dengan prabawa kesucian yang luar biasa, yang ucapannya mampu menentramkan hati nuraniku, aku merasa tentram berada didekatnya. Dikala mendengar berita yang menggetarkan seluruh istana Adikku minggat meninggalkan istana, kerna ingin menjadi Putra Mahkota yang nantinya menggantikan ayahanda menjadi seorang raja, ayahanda marah besar hamper menitahkan hukuman mati untuk adikku, akhirnya bulatlah tekadku, demi kasih saying kepada adikku, maka dihadapan pembesar istana, kalu adikku ditemukan akan kunerikan gelar Putra Mahkota yang kusandang. Sumpahku menggetarkan, semua pembesar istana tercengang ayahanda dan ibundada ratu kaget dan membisu suasana menjadi hening, diam tanpa sepatah kata, saling menunggu bicara pada penobatan berbicara dengan tenang penuh wibawa yang terjadi biarlah terjadi. Sudah ditakdirkan Pangeran muda ini tidak berjodoh menjadi seorang raja….dia akan mengikutiku berkelana melanglang buana dan akan menjadi orang besar yang tidak hanya dikenangrakyat negeri ini, tapi seluruh jagat raya akan mengaguminya sepanjang jaman. Akhirnya atas petunjuk Pendeta maha suci , adikku berhasil ditemukan dalam tiga hari serta langsung dinobatkan menjadi putra mahkota adikku memelukku penuh ucapan terima kasih. Dan akupun melangkah pergi meninggalkan istana mengikuti langkah pendeta maha suci memasuki hutan belantara. sambil berjalan ke hutan Pendeta Maah Suci berserita tentang Dharma dan memperkenalkan dirinya bernama SWAMI PRAJNATARA Pendeta maha suci di Jambu Dwipa pada jaman itu Aku bersyukur mendapat bimbingannya tidak sembarang orang bisa mendapatkannya.

Berikut adalah Bagaimana Ki Bhudi Darma sampai akhirnya di Bali Dwipa dan bertemu dengan Ki Suling, Sesepuh Pemula Paiketan Paguron Suling Dewata, seperti di tuturkan oleh Ki Hanuraga :

Akhirnya aku sampai pada suatu daerah yang kesuciannya mampu menggetarkan hati nurani dan sukma ku daerah hutan yang asri, pemandangn yang indah mempersona. Sedikitpun tidak terasa nuansa kejahatan di dalamnya, lama aku terdiam perasaan ku bagaikan berada di alam kahyangan, betul-betul tentram aku berjalan dan terus berjalan, akhirnya sampai di sebuah tanah datar, dipegunungan yang indah menghijau akau bertemu dengan empat ornag pertapa di daerah ini yang merupakan empat lawan yang telah menjadi kawan. Keempat orang ini tertawa riang sepakat mengangkat diri menjadi EMPAT PESILAT TANPA TANDING suara tertawanya begitu nyaring bergema jauh ke segala penjuru bergema di setiap lemabh dan jurang, menunjukkan penguasaan tenaga dalam yang luar biasa, namun ada kesan kesombongan dalam ucapannya. Tenaga dalam empat pesilat wilayah ini sungguh luar biasa, hamper menyamai tataran yang kucapai selama ini, dalam perjalanan demi perjalanan bertemu banyak lawan tangguh namun tidak ada yang setangguh ini yang kutemui, namun mendengar kesan kesombongan dalam ucapannya tanpa sadar aku mengerahkan segenap tenaga dalam yang kumiliki lalu mengumandangkan sebuah syair ajaran Sang Buddha. Langit biru betapa tingginya? Apa gerangan yang ada di atasnya? Laut nan biru betapa dalamnya apa gerangan yang ada di bawahnya? Adakah yang tertinggi? Adakah yang terendah? Tiada yang tahu? Di atas puncak gunung ada awan? Di atas awan ada langit, di atas langit ada bintang, di atas bintang ada yang lebih tinggi tiada batasannya. Setelah dengan ilmu lari cepat aku sampai di dekat empat pesilat tangguh ini. Akupun memberanikan diri memberikan nasehat agar jangan menyebut dirinya” Pesilat tanpa tanding”, karena diatas yang pandai ada yang lebih pandai, sesungguhnya di jagat raya ini tidak ada yang paling pandai. Setelah memberikan nasehat sebenarnya aku ingin memperkenalkan ajaran Sang Budhha kepada empat pesilat tangguh ini, namun tidak di duga keempat pesilat tangguh ini bukannya berterima kasih malahan tersinggung dan marah –marah serta merasa tersindir. keempat pesilat tangguh ini beranggapan bahwa aku menghalagi niatnya sebagai empat pesilat tanpa tanding, aku sungguh tidak tahu kesepakatan menjadi empat pesilat tanpa tanding ini justru merupakan usaha yang utama, yang mampu menghentikan pertarungan adu jiwa keempat pesilat ini yang telah lama kali berulang setiap tiga tahun bertarung hidup mati, untuk menentukan yang terbaik namun selama ini hasilnya seimbang. Keempat pesilat tangguh ini, berkeinginan untuk membunuhku agar berita ada orang asing pernah berani menghalaginya tidak tersiar di duania persilatan, slaah seorang dari kemepat pesilat tangguhh menantangku bertarung dan aku melayani dengan senang hati. Diluar dugaan setelah bertarung selama satu hari satu malam, kami berdua masih dalam keadaan seimbang, tidak ada yang kalah dan menang, aku kaget dalam perjalananku berkelana selama ini tidak da setangguh ini yang paling kuat hanya mampu bertahan setengah hari. Aku lebih kaget lagi ketika keempat pesilat tangguh ini mulai menyerang secara bersamaan, padahal tenaga ky sudah mulai habis tubuhku sudah sangat lelah yang lebih kaget lagi keempat pesilat tangguh ini sepertinya melupakan sifat-sifat ksatria seorang peilat, tidak merasa malu mengeroyok lawan yang sedang kelelahan. Namun tiada kesempatan bicara tidak ada kesempatan melarang pertarungan semua serangan mematikan semua serangan mengarah mencabut nyawa terpaksa aku bertahan sekuat tenaga, tubuhku mulai kena serangan dalam tingkat tinggi, disana sini penuh dengan luka dalam yang mematikan. Sebentar lagi tentu aku akan mati menggenaskan mati dikeroyok dengan cara yang memalukan. Sungguh aku tidak bisa terima, kalau mati bertarung dengan lawan tangguh dengan cara ksatria tentu aku dapat menerima, tapi kematian ini terlalu sia-sia, mati ditangan orang yang tidak menghormati sifat ksatria. Dikala kematian akan menjemputku, akupun sudah pasrah, tangan dan kakiku sudah tidak mampu digerakkan lagi, pada saat itu entah dari mana datangnya terdengar “alunan suara seruling” yang amat merdu, lembut, tenang dan penuh kedamaian, namun didalamnya tersembunyi kekuatan tenaga dalam peniupnya yang luar biasa, mungkin tataran tenaga dalam beberapa kali lipa diatasku. Mendengar suara seruling itu seluruh sukma ku seperti terbetot, tubuhku terasa hampa, kami berlima yang tengah bertarung hidup mati semuanya diam terpaku bagaikan patung tanpa tenaga, tanpa perasaan, lupa pada diri sendiri, lupa pada permusuhan dan lupa pada pertarungan mati-matian. Kami berlima yang sedang bertarung hidup dan mati tidak neyadari entah sejak kapan tahu-tahu ditengah-tengah kami berlima yang sedang diam mematung, telah berdiri seorang kakek tua renta, amat kurus dalam keadaan telanjang bulat dan rambut terurai tak terpelihara menjuntai kebawah sampai ke ujung kaki, janggutnya lurus kebawah menutupi kemaluannya. Melihat kakek ini, yang bersinar matanya amat lembut penuh kedamaian, kadang-kadang matanay mencorong mengeluarkan sinar terang menyilaukan penuh prabawa luar biasa, sinar matanya seperti mampu menembus hati sanubari setiap orang , bibirnya walaupun selalu mengulum senyum penuh kedamiaan, namun tersembuyi wibawa yang mantap yang mampu menendukkan siapa saja didekatnya. Berada dekat kakek ini hati dan jiwaku tergetar, aku teringat Guru suciku di Jambu Dwipa, namun apa yang kusaksikan saat ini penampakkan sangat jauh lebih sempurna, aku bagaikan anak kecil saja, aku merasa benar-benar merasa tuduk sepenuh hati. Kami berlima baru sadar setelahkakek peniup suling yang mengaku bernama KI SULING ini berbicara lemah lembut, penuh kedamaian dan menasehati keempat pesilat tangguh itu yang membenarkan perkataanku sebelumnya dan ikut mendukung nasehatku, jangan merasa diri tanpa tanding dan jagan memalukan dunia persilatan Bali Dwipa dan jangan memalukan orang-orang Watukaru. Kakek ini merasa malu sebagai orang-orang Watukaru melihat prilaku keemepat pesilat ini aku terhenyak mendengar pengakuan kakek peniup suling ini sebagai orang watukaru di Bali Dwipa rupanya tujuan pengembaraanku telah sampai pada tujuan namun aku tidak mampu berbicara nafasku tersengal, tengaku habis seluruh tubuhku dipenuhi luka dalam. Kemudian dengan gusar keempat pesilat tangguh Bali Dwipa ini berkat a lantang menantang nereka hanya tunduk dan menuruti perkataan orang yang mampu mengalahkannya dalam pertarungan olah kanurangan dan keempatnya serentak mengurung KI SULING siap bertarung menentukan siapa sesungguhnya yang lebih unggul.

Mendadak Ki Suling membuka matanya, dari kedua matanya keluar sinar terang sangat tajam menyilaukan mata bagaikan matahari keempat pesilat tangguh mendadak silau, tak dapat melihat apa-apa, pemusatan pikirang menjadi buyar, pada saat itulah kulihat Ki Suling menggerakkan serulingnya, luar biasa hanya dalam satu gerakan Ki Suling mempu merontokkan dan memusnahkan tenaga dalam keempat pesilat itu, Keempat pesilat tangguh secara bersamaan jatuh ke tanah dalam keadaan lumpuh, tenaga dalam yang dihimpunnya selama puluhan tahun telah punah dalam sekejap, semuanya nampak menyesal tidak tahu tingginya langit, aku sendiri baru pertama kali melihat gerakan silat sedahsyat itu, dalam satu gerakan melepaskan lebih dari 108 serangan dengan tenaga tak terukur, aku sendirian pun rasanya tak mampu bertahan dalam satu gerakan jika terpaksa bertarung dengan kakek ini, Guru Suciku di Jambu Dwipa pernah berkata ada pesilat tangguh bisa melepasakan 2-108 serangan dalam satu gerakan, Aku sendiri selama puluhan tahun di Jambu Dwipa di bawah bimbingan sang Guru Suci berlatih memperbanyak serangan dalam satu gerakan, akhirnya setelah empat puluh tahun berhasil melepaskan 18 serangan dalam satu gerakan, Guru Suci ku saja hanya mampu melepaskan 49 serangan dalam satu gerakan, sungguh bersyukur di daerah Watukaru ini aku dapat menyaksikan kemampuan melepaskan lebih dari 108 serangan dalam satu gerakan, yang hakekatnya mampu membunuh 108 pesilat tangguh hanya dalam satu gerakan.

Setelah lama kami berdua berdiskusi masalah ILMU KEBAJIKAN – ILMU SILAT- ILMU PENGOBATAN aku benar-benar mengakui kehebatan kemampuannya, jauh diatas kemampuan guru-guru ku sebelumnya, inilah yang selama ini kucari, aku telah sampai pada ujung harapan maka, tanpa buang waktu segera aku memohon agar diterima sebagai muridnya, dengan senag hati menerimaku sebagai muridnya yang terakhir, pada saat itu juga mahaguru Ki Suling mengajariku TIRTA PRANAYAMA atau Ilmu Pernapasan Air dan SAHASRA KARTIKA WIKRIDITA atau ilmu Langkah Seribu bintang, serta dihadiahi sebuah suling bambu, dia merasa sudah tua, tidak mampu lagi mengajar dengan baik, maka setelah menguasai kedua ilmu yang diajarkan aku disuruh ke GOA SUNIA MANDALA dan belajar sendiri, disana sumbernya ilmu Seruling Dewata

Mengikuti petunjuk Ki Suling aku berlari mendaki Puncak Barat Gunung Watukaru sesampainya di puncak barat, aku duduk meniup suling salah satu wirama suling dewata yang baru ku pelajari tiba-tiba dari sana-sini tampak bayangan para yogi berkelebat cepat menuju kearahku, ketika dekat semuanya berlutut rupanya semua menaruh hormat pada suling bambu yang ku bawa.

Di bawah bimbingan kakak-kakak seperguruanku para yogi pertapaan Candra Parwata di puncak Barat Gunung watukaru ditambah kemampuan dasarku selama ini, aku berhasil menguasai kedua ilmu yang diajarkan Mahaguru KI SULING dalam satu tahun. Selanjutnya aku pergi ke danau sesuai petunjuk Maha Guru aku turun ke dasar danau menahan nafas dengan Ilmu Pernafasan air, sambil melakukan Langkah Seribu Bintang.

Pada pijkaan terakhir aku telah sampai dihadapan pintu masuk Goa Sunia Mandala, dengan pengerahan tenaga sepenuhnya aku berhasil meggeser batu besar penutup goa, setelah ditutup kembali aku berjalan melewati lorong yang penuh cahaya di dindingnya ada banyak gambar bercahaya, berbagai bentuk meditasi, berbagai bentuk posisi binatang dan sebagainya mengandung rahasia ilmu setinggi tingginya ilmu.
Setelah merenungi berbagai gambar di dinding goa Sunia Mandala sambil berlatih selama 18 tahun aku telah menguasai 72 macam ilmu silat Bali Kuno, tenaga dalamku meningkat beberapa kali lipat, melepasakn 108 serangan dalam satu gerakan dengan mudah, ketika kembali ke pertapaan Candra parwata para yogi mengangkatku sebagai ketua yang baru, menggantikan Ki Suling tapi aku menunda ingin menjelajahi seluruh pelosok Bali Dwipa terlebih dahulu.

Setelah menjelajahi seluruh pelosok Bali Dwipa dan bertemu puluhan pesilat tangguh dalam menjajal ilmu tidak ada yang mampu bertahan dalam satu gerakan akhirnya aku merasa yakin mampu memimpin pertapaan Candra Parwata tanpa kesulitan, maka aku bersedia diangkat sebagai ketua menggantikan Mahaguru Ki Suling.

Selama berkelana di seluruh pelosok Bali Dwipa orang-orang dunia persilatan mengenalku dengan sebutan WIKO DHARMO pada abad ke V Caka - tahun ke 63 bulan ke 11 hari ke 26 aku ditahbiskan sebagai sesepuh angkatan I PAIKETAN PAGURON SULING DEWATA oleh MAHA GURU SULING dan Mahaguru Ki Suling dianggap sebagai SESEPUH PEMULA.

Kesemuanya ini atas kesepakatan berdua, karena dari 12 cabang perguruan Ardha Candra hanya tersisa 1 cabang saja yaitu CABANG SULING DEWATA maka teralu berat kalau masih menyandang nama perguruan ARDHA CANDRA yang maha besar ini, makanya disetujui memakai nama cabang saja, karena terdiri dari 72 macam ilmu silat Bali Kuno , maka lebih cocok di pakai nama Paiketan ( Ikatan) yang mampu mempersatukan semuanya sehingga disetujui dinamakan PAIKETAN PAGURON SULING DEWATA.

Aku sendiri sebagai sesepuh angkatan I yang mengetahui Perguruan ini, sedangkan Maha Guru Ki Suling kerena masih ada ikatan dengan Paguron Ardha Candra beliau lebih suka dipanggil SESEPUH PEMULA masalah PAIKETAN PAGURON SULING DEWATA selanjutnya beliau tidak mau tahu itu adalah urusanku dan para sesepuh generasi berikutnya.


3. Sesepuh Generasi II – Ki Mudra dan Ki Madra

1-ki-mudra
Pedikan Sesepuh abad 6 caka, tahun 96, bulan ke 7-hari ke 15 (caka warsa 596)Sesepuh generasi II Paiketan Paguron Suling Dewata adalah sepasang Mahayogi kembar yang bernama Ki Mudra dan Ki Madra, beliau adalah siswa yang dibina dan dituntun secara langsung oleh Ki Byanlu Syamar (Budhi Dharma), sesepuh Generasi I Paiketan Paguron Suling Dewata. Ki Mudra adalah pemimpin siswa dari golongan Tanah yang ahli dalam pertarungan di darat, sedangkan Ki Madra adalah pemimpin siswa dari golongan Air yang ahli dalam pertarungan di Air. Dari 72 macam ilmu silat Bali Kuno yang dipelajarinya KI Mudra dan KI Madra paling ahli dalam menggunakan Ilmu Silat Harimau Sakti yang disebut "Sheru Cakti Yoga Cara Bhumi Castra ", dan dalam pertarungan pertarungan diseluruh Bali Dwipa dalam masa pengembaraannya Ki Mudra dan KI Madra selalu menggunakan Ilmu Silat Harimau Sakti sehingga akhirnya dunia persilatan Bali Dwipa pada Masa itu menjulukinya dengan sebutan : " Macan Gunung Watukaru ". Yang paling istimewa adalah Ki Mudra dan Ki Madra berhasil berlatih ilmu yang sangat Langka dalam Paiketan Paguron Suling Dewata yang dinamakan "Ilmu Wayangan Sumpene", atau Ilmu bayangan mimpi , ilmu langka ini sangat istimewa hanya bisa dilatih oleh sepasang orang bersaudara kembar bahkan Ki Byanlu Syamar (Budhi Dharma), sendiri tidak mampu mempelajari/berlatih ilmu langka Wayangan Sumpene ini.Inti sari dari ilmu Wayangan Sumpene (Bayangan Mimpi) ini, syaratnya ada dua orang kembar yang sehati, saling melindungi dan berani berkorban nyawa untuk menyelamatkan satu sama lain. Diawali dengan keduanya berlatih meditasi sedikitnya 15 tahun sampai mencapai tingkatan atau tahapan tertentu yang dinamakan "Pemungkas Sukma", yaitu mengeluarkan jiwa dari raganya dan memungkas yaitu memisahkan antara jiwa dan raga yang bersangkutan. Selanjutnya pada puncak latihan kedua orang kembar secara bersamaan melakukan meditasi Pamungkas Sukma dan mengeluarkan jiwa dari raganya, kemudian dengan kekuatan bathin yang luar biasa Ki Byanlu Syamar menukar jiwa kedua orang kembar tersebut, sukma atau jiwa KI Mudra dimasukkan ke dalam raga Ki Madra dan dalam waktu yang bersamaan sukma atau jiwa Ki Madra di masukan ke dalam raga Ki Mudra. Penguasa ilmu langka Wayangan Sumpene ini tidak merasa sakit apabila badannya kena pukul atau kena tendang bahkan tertusuk senjatapun tidak merasa sakit dan tidak dapat dibunuh oleh siapapun sepanjang kembarannya masih hidup.
Dengan ilmu langka Wayangan Sumpane ini Ki Mudra dan Ki Madra dapat mengalahkan saudara seperguruannya yang satu angkatan dalam pertarungan adil satu lawan satu bahkan dapat mengalahkan Ki Byanlu Syamar (Budhi Dharma) sendiri. Ki Mudra dan Ki Madra didiksa sebagai sesepuh Generasi II Paiketan Paguron Suling Dewata dihadapan Ki Goplo (Ki Suling), Sesepuh Pemula pada abad ke 6 caka - tahun ke 96-bulan ke 7-hari ke 15 atau caka warsa 596. Selama memimpin perguruan sebagai Sesepuh Generasi II Paiketan Paguron Suling Dewata membina dan menuntun ratusan yogi dan yogini , beberapa diantaranya yang terkenal adalah : Ki Hanuraga, Ki Kolot, Ki Nara Utama, Ki Nedeng, Ni Selasih, Ki Anturan, Ki Pujut, Ki Nala, Ni Kusambi, Ki Sada, Ki Herlangga, Ki Catus, NI Tunggali, Ni Lubani, Ni Rabut, Ki lebah, Ki Kodong. Pada saka warsa 892 Ki Mudra dan Ki Madra, mengundurkan diri sebagai sesepuh setelah menyerahkan wasiat kepada salah seorang muridnya yang bernama Ki Hanuraga untuk menjabat sesepuh generasi ke III Paiketan Paguron Suling Dewata, selanjutnya pada masa akhir kehidupannya KI Mudra dan KI Madra meneliti dan menyempurnakan ilmu silatnya serta berhasil menciptakan ilmu silat yang Maha Dahsyat yang dinamakan : Ilmu Silat Maha Manusia. Ilmu silat ini mengembangkan semua organ tubuh manusia sehingga menjadi kekuatan penghancur yang maha dahsyat seperti : Pikiran, Rambut, Mata, Ludah, Ingus, Keringat, Detak Jantung, Bersin, Batuk, bahkan kentut dapat berkembang menjadi kekuatan penghancur dan pembunuh yang maha dahsyat. Setelah berabad abad hidup terus belum juga meninggalkan dunia ini karena menguasai ilmu langka Wayangan Sumpene akhirnya keduanya merasa bosan hidup lalu keduanya sepakat mengakhiri hidupnya dengan saling menyerang satu sama lain dalam waktu yang bersamaan sehingga hancur musnah menjadi debu karena kedahsyatan serangan masing-masing.

4. Sesepuh Generasi III – Ki Hanuraga (Ksatria Suling Gading)

1-ki-hanuraga
Pediksan Sesepuh abad ke 9-caka tahun ke 92-bulan ke 6 hari ke 15 ( caka warsa 892 )Ki Hanuraga merupakan Sesepuh Generasi III, beliau berasal dari tanah Jawa yang dititipkan oleh orang tuanya ketika masih merah kepada Ki Mudra dan Ki Madra sebelum kedua orang tuanya tewas dalam pertempuran dengan beberapa pesilat Bali Dwipa, selanjutnya Hanuraga kecil di titipkan kepada keluarga petani yang tidak memiliki anak oleh Ki Mudra dan Ki Madra. berikut adalah kutipan Parampara Perguruan mengenai kisah Ki Hanuraga :

seperti dituturkan bagaimana Ki Hanuraga kecil mendaki gunung Watukaru sampai ke Puncak dan akhirnya bertemu dengan KI Mudra dan KI Madra , Sesepuh generasi II Paiketan Paguron Suling Dewata , dikisahkan sebagai berikut :

Rupanya Puncak Barat telah kudaki, Matahari bersinar redup Suara burung-burung mempesona Burung suling bernyanyi didahan pohon Dengan indah kabut melipur Para Yogi melantunkan doa-doa Suara Suling mengalun merdu Menetrankan hati yang gersang Bagaikan berada dalam kahyangan. makin terang sekitar Ashram Pertapaan Candra Parwata nan tentram Segalanya tampak indah tiada tara Ada bariasan bunga Andong Merah Andong Hijau, Kemenuh dibukit berbunga Kayu Mas, Kayu Puring, Kayu Kesuwa Tiba-tiba sang Yogi menghentikan Samadhi Suara suling berhenti mengalun Tiada suara, tiada irama, sunyi , hening . melihat suling kecil mungil ditangan anak muda yang dekil Para Yogi semua berlutut Bagaikan bertemu Dewa Hyang Mahadewa Tak Tampak oleh mata mungil Berkelebat samara dua bayangan kuning Tiada tahu dari mana datangnya Sudah berdiri 2 orang Mahayogi Bagai pinang dibelah dua Dengan senyum lembut menentramkan. keluar tutur sapanya yang halus Hai darimana engkau dating sayangku Yang emmebawa suling mungil Perlambang keangungan Puncak Barat Silahkan mampir di Ashram terpencil Puaslah hanya dengan sayur-sayuran Silahkan pula mengunyah sirih sayangku Barangkali engkau sangat letih . Baiklah Yang Mulia Mahayogi Ananda mentaati pituduh Mahayogi Siapa gerangan yang bagai pinang dibelah dua Tiada kentara mana bedanya Sayangku ketahuilah dihadapanmu Mahayogi Ki Mudra dan Ki Madra Suling mungil ditanganmu hadiah dariku Perlambang keagungan Puncak Barat. Sang Mahayogi bertutur kata, Anakku namamu Hanuraga, Asalmu dari tanah Jawi, Orang tuamu menitipkanmu padaku, Untuk dididik menjadi ksatria. Ketika itu engkau masih orok merah, maka kutitipkan dilembah bawah, pada keluarga petani yang tiada anak, untuk diasuh bagai anak sendiri, Suling Mungil tanda pengenal dariku, Perlambang keagungan Puncak Barat, Paiketan Paguron Suling Dewata, Di Pertapaan Candra Parwata, Di Puncak Gunung Watukaru yang Indah, Tempat berkumpulnya para Yogi. Disinilah engkau akan dididik, menjadi kesatria mumpuni menjadi lelananging Jagat, ditempat Ilmu Kawisesan dan Kamoksan, Lupakanlah segala asal-usulmu, Disinilah sekarang rumahmu, Semua Yogi ini adalah saudaramu, Dalam kelahiranmu yang kedua, Kelahiran karena Ilmu Pengetahuan, dibawah bimbingan sepasang Mahayogi, Hanuraga berlatih tiada henti Ditempa teriknya matahari, Diabawah guyurang hujan, Didalam kegelapan malam, Berlatih tanpa mengenal lelah, Mengulah pelajaran tanpa henti. Tahan terhadap rasa sakit dan rasa lelah, Tujuannya hanya satu meneruskan tradisi nenek moyang, Nenek Moyang Bali Dwipa, Demi keagungan Puncak Barat.

Berikut di paparkan bagaimana Ki Hanuraga didik dan di tempa oleh Sesepuh Generasi II Ki Mudra dan KI Madra untuk menjadi Ksatria Sejati :

Tiga ratus enam puluh gerakan, Ilmu melemaskan Tulang dikuasainya, Delapan belas cara berdiri Delapan belas pukulan Delapan belas tendangan Delapan belas tangkisan Delapan belas pergeseran kaki , Delapan belas gerakan jatuh, Delapan belas mengelak, Delapan belas penyatuan tenaga , Delapan belas sapuan, Dilatihnya sampai sempurna. tiga puluh enam jurus dasar, Depok, Setembak, Kertawisesa, Pancasona dan Tat Twan Asi, Dilatihnya siang dan malam hari, Masing –masing selama empat puluh dua hari, Baru mencapai kesempurnaan , Sehingga diri menjadi siap , Menerima Ilmu tertinggi Puncak Barat, Semuanya ada tujuh puluh dua, Tujuh Puluh Dua Ilmu tertinggi, Ilmu tertinggi dari Puncak Barat, Ilmu silat Bhumi dan Langit, Ilmu silat Delapan Punjuru Angin, Ilmu silat Ombak Samudera, Ilmu silat Awan Kosong, Ilmu Silat Banyu Milir, Ilmu silat Bayu Penutus, Ilmu silat Badai Petir, Ilmu silat Penolak Bhumi, Ilmu silat Gempa Bhumi, Ilmu silatNujum Bintang, Ilmu silat Rua Bhineda, Ilmu silat Lima Bunga, Ilmu silat Lingkaran Kalut, Ilmu silat Tolak Bala, Ilmu Silat Benteng Waja, Ilmu Silat Panakluk Iblis dan sebagainya, selanjutnya setelah ditempa berbagai ilmu silat ilmu silat tingkat tinggi Tujuh Puluh Ilmu tertinggi Ilmu tertinggi dari Puncak Barat Akhirnya ditempa ilmu memainkan senjata, Delapan belas senjata maha dahsyat.

Yang menjadi cirri dari Puncak Barat Adalah ilmu silat Suling Gading Yang paling berkesa dihati Dan menyatu dengan perasaan Lambang keagungan Puncak Barat. Menjadi senjata bagian dari diri Sehingga senjata dan tubuh menjadi satu Itulah kesempurnaan Berlatih senjata Delapan belas Irama Suruling Dewata merasuk didalam hati nurani, menimbulkan perasaan tentram pengobat kesedihan dan rindu, Wirama Bhuta Akasa, Kalengengan , sardhula Kroda , Widara Gemulung Kilaku Manedeng, Prahara Kalika Giris, Prawira Lalita, Wekasita Kusuma Hingga wirama tertinggi yang maha dahsyat Wirama Jagat Pralina , sepasang Maha Yogi yang suci mulai menempaku berbagai ajian, ajian Kawisesan dan kamoksan mulai dari tingkat rendah sampai tingkat yang tertinggi diawali dengan pelajaran “ Kanda Pat” Kanda Pat Madu Kama Kanda Pat Bhuta , Kanda Pat Rare, Kanda Pat Sari, Kanda Pat Nyama Kanda Pat Manusa, Kanda Pat Madu Muka, Kanda Pat Pengaradan, Kanda Pat Krakah, Kanda Pat Prasanak , Kanda Pat Pemurtian. ,Kanda Pat Kaputusan Kanda Pat Pasuk Wetu, anda Pat Subiksa , Kanda Pat Suksma, Kanda Pat Moksa, Kanda Pat Dewa, Kanda Pat Tanpa Castra Dasar menuju kesempurnaan hidup Kehidupan bathiniah Yang sempurna, berlatih berbagai Ajian dahsyat Delapan belas ribu enam ratus enam puluh tujuh ajian Ajian Anghyang Wisesa, Ajian Tutur Menget, Ajian Palungguhan, Ajian Pegantungan Pegating Tiga Ajian Pelalangon, Ajian telaga membeng , Ajian Pagedongan, Ajian Minaka Dharma, Ajian Wewadonan Titi Murti, Ajian sarining Kelanangan, Ajian yata, Ajian Pamuteran, Ajian Sayu rahina sada, Ajian Masun, Ajian Weruhing Bapa Babu, Ajian Tri Pemuteran, Ajian Swakar , Ajian Pamoran, Ajian Astagina, Ajian Rajah kala Cakra, Ajian Panca Dewata, Ajian Praka Wisesa, Ajian Panca Brahma, dan sebagainya.

Ajian Kamoksan di bagian akhir Merupakan tujuan manusia, bebas kelahiran berulang Hingga menyatu dengan Hyang Widhi Ajian Kalepasan Ring sarira Ajian Tutur Kalepasan, Ajian Wekasing Ujar, Ajian Sang Hyang Dharma, Ajian Wekasing Seputih, Ajian Dharma Kalepasan Kamoksan, Ajian Pakekesing Pati Ajian Tengeraning Pati, Ajian Wekasing Bhuana, Ajian Patyaning Tiga, Ajian Patitisan, Ajian Pakeker, Ajian Pemancutan, delapan tahapan paling akhir Tempaan berat dari Puncak Barat Berendam di air hingga air setinggi leher Selama tujuh hari tujuh malam Samadhi di “Agni Mandala“: Goa panas tiada tara Panas asli dari pusat bumi Selama tujuh hari tujuh malam, tubuh bergantung terbalik Bagaikan seekor kelelawar didahan phon nan rindang, Bhumi diatas kepala, langit dibawah tapak kaki, Selama tujuh hari tujuh malam, merangkak ditanah, bagaikan seekor kijang, Selama tujuh hari tujuh malam, Tubuh tertanam ditanah sampai setinggi leher, Selama tujuh hari tujuh malam, menahan terjangan, air terjun, dengan ubun –ubun yang lembut, Selama tujuh hari tujuh malam, Kemudian menutup diri didalam Goa Sunia Mandala, Selama tujuh hari tujuh malam, Tidak tahu siang dan malam, tidak melihat rupa dan warna, tidak emngenal arah, tidak merasakan semilir angina, tidak mendengar segala suara, badan bagai ada dan tiada, menatap Matahari selama seratus hari, menatap rembulan sebelum dan sesudah purnama selama Tujuh malam.

Berikut di ceritakan setelah Ki Hanuraga menamatkan ilmu dan sesuai tradisi Perguruan maka, Ki Hanuraga mulai berkelana menuju arah barat dan bertemu dengan beberapa pesilat tangguh, Ki Hanuraga diceritakan berkelana tiga kali ke seluruh Nusa Ning Nusa, seperti di paparkan sendiri oleh Ki Hanuraga :

"Tempaan Berat Dari Puncak Barat telah dilampaui semua Sepasang Maha Yogi bertitah supaya segera turun Gunung Mengembara dialam bebas, Menolong kaum yang lemah, membasmi kelaliman Semoga tentram damai seisi ala mini. Setelah berpamitan kepada sepasang Maha Yogi Dan semua Yogi di Puncak Barat Segera aku menuruni Gunung Gunung Batukaru yang penuh kenangan Langkahku ringan bagaikan terbang Puncak Barat Yang dulu kudaki dengan lambat dan susah payah Dapat kuturuni dengan cepat Hanya delapan belas kejapan Kaki gunung Watukaru pun Telah kuinjak Perjalanku mengarah kebarat Langkahku terhalang laut yang indah Dengan Ilmu Meniti Ranting Dalam tujuh puluh dua lompatan segara rupek telah kulewati Tanah Jawa disebut Jawa Dwipa disinilah asal mula orang tuaku. Bertepatan dengan kedatanganku Dunia persilatan Jawa Dwipa sedang geger dan heboh Kedatangan pesilat tangguh dari negeri seberang nan jauh Pesilat berkulit kuning bermata sipit Dari dataran luas Tionggoan Dengan ilmu aneh Thi Khi Ibeng Menghisap tenaga mencabut nyawa. seluruh pesilat Jawa Dwipa terpaksa tunduk dan bertekuk lutut karena harus ikhlas menerima kekalahan tiada satupun yang mampu menandingi Pesilat tangguh bermata sipit malang melintang tiada lawan. Jodoh telah menentukan Aku bertemu pesilat tangguh dari Tionggoan Berkulit Kuning bermata sipit Kesempatan Pertama menjajal ilmu Dengan Tenaga Sakti Isap Bhumi Bertarung seru mempertaruhkan Nyawa Demi keagungan Puncak Barat. Bertarung mati dan hidup Dengan ilmu sama saling menyedot Akhirnya Tenaga Sakti Isap Bhumi menunjukan keunggulannya Ilmu Thi Khi Ibeng yang dahsyat yang mengalahkan seluruh pesilat Jawa dapat dikalahkan dengan mudah, Tenaga dalam Pesilat Tionggoan Tersedot habis, Tenaga dalamku meningkat pesat Tenaga seluruh pesilat Tanah Jawa Yang terhisap ilmu Thi Khi Ibeng yang maha dahsyat Berkumpul dalam ragaku Pertarungan pertama tak terlupakan.

Perjalananku berkelana keseluruh daerah di Nusantara nan indah seluruhnya sebanyak tiga kali kutulis dalam sebuah buku : "Kisah Ksatria Suling Gading” pertarungan demi pertarungan dengan ribuan pesilat tangguh Pesilat dari seluruh Nusantara Dari Langkapura, Jambu Dwipa, Tibet, Tionggoan Kuroyewu dan Jepun Setelah tua kembali ke Pertapaan Melanjutkan paiketan Paguron Suling Dewata Peniggalan nenek moyang Bali Dwipa. Mengisi hari tua kepelajari semua ilmu ciptaan para sesepuh Ki Byanlu Syamar yang disebut Budhi Dharma/Wiku Dharmo Sesepuh generasi I Paiketan Paguron Suling Dewata Menciptakan 2 macam ilmu silat tanpa wujud yang maha dahsyat yaitu ”Ilmu Silat Maha Cinta Kasih“ Dan “Ilmu Silat dua Belas Kebajikan“ Ki Mudra dan Ki Madra Sesepuh Generasi II Paiketan Paguron Suling Dewata Juga menciptakan ilmu silat Maha dahsyat yaitu “ Ilmu Silat Maha Manusia” segala yang ada pada diri manusia diarahkan untuk membentuk suatu kekuatan penghancur yang dahsyat seperti Pikiran, Mata, Pendengaran, Bentakan, Bersin, Keringat, Ingus, Ludah, Rambut, Detakan Jantung, bahkan (maaf) Kentutpun dapat dikembangkan menjadi kekuatan penghancur Yang Maha Dahsyat. hamba Ki Hanuraga Yang oleh dunia Persilatan sering disebut Ksatria Suling Gading Menulis dua buah buku ilmu silat yaitu “Ilmu Silat Patah Hati dan Seribu Sungai Menyatu di Lautan “ yang disebut belakangan emmapu memperluas pandangan pesilat tentang Ilmu Silat."

Ki Hanuraga mendidik dan membina ratusan Yogi dan Yogini, namun diantaranya terdapat 24 orang yang terkenal dan sering membantu Perguruan diantaranya : Ki Tepus, Ki Nara, Ki Kroya, Ki Lingga, Ki Basarang, Ki Sindu, Ki Panung, Ki Dipa, Ki Giri, Ki Kepakisan, Ki Karang, Ki Wengi, Ki Damar Sakti, Ki Pujut, Ki Corok, Ki Kelingkung, Ki Bebalang, Ki Rumpuh, Ki Sangal, KI Daha, Ni Lubani, Ni Sari, Ki Amanagapa, Ki Barat


5. Sesepuh Generasi IV – Ke Tepus

5-ki-tepus
Pediksan pada abad ke 12-caka tahun ke 41-bulan ke 6, hari ke 15 (Caka Warsa 1141)Setelah Ki Hanuraga Tua, beliau mengangkat Ki Tepus yang nama aslinya I Made Tepus menjadi Sesepuh generasi ke 4 Paiketan Paguron Suling Dewata. selama menjadi Sesepuh generasai ke 4, beliau mengangkat berpuluh puluh yogi dan beberapa diantaranya yang terkenal dan sering membantu mengurus perguruan yaitu : KI Wela, Ki Dura, Ki Baka, Ki Prada, Ki Jumpungan, Ki Kenceng, Ki Lembang, Ki Merta, Ki Pageh, Ki Belancang, Ki Jengkang, Ki Candung, Ki Wangket, Ki Nirdon, Ki Kebo Iwa, Ki Pepaka, Ki Eanwikan, Ki Bejugjag.

Pada masa kepemimpinan Ki Tepus, nama Ki Merta dicatat sebagai siswa perguruan generasi ke 4, utk menghakhiri pembicaraan dan renungan mengenai tindakan Sesepuh sebelumnya yang memberikan kesempatan orang luar mempelajari Ilmu dari Perguruan Seruling Dewata. dan sejak saat itu para Yogi dilarang membicarakan dan mengungkit -ungkit hal tersebut. selain itu Paguron Suling Dewata mulai melarang keras mengajarkan ilmu perguruan diluar anggota perguruan. Ki Tepus menulis 2 buah buku silat yaitu : kitab Ilmu Silat 35 Lintang dan Ilmu Silat 30 Wuku.


6. Sesepuh Generasi V – Ki Wela

6-ki-wela
Pediksan Sesepuh abad ke 14 - caka tahun ke 61 - bulan ke 11 -hari ke 15,caka warsa 1361 atau 1439 MasehiSelama menjadi Sesepuh Paguron Suling Dewata, Ki Wela menulis 2 ( dua ) buah buku ilmu silat, yaitu : Ilmu Silat 8 watak dan Kitab Ilmu Silat Tidur, Ki Wela membina puluhan yogi dan Yogini , namun jumlahnya tidak begitu banyak bila dibandingkan dengan siswa pada generasi sebelumnya , dari puluhan Yogi dan Yogini tersebut yang dibina ada 7 (tujuh) orang yang ternama dan sering membantu dan mengurus Perguruan yaitu : Ki Lungka, Ki Kubakal, Ni Taruni, Ni Nguli, Ki Panorajon, Ki Blangkang, dan Ki Togog.

7. Sesepuh Generasi VI – Ki Lungka

7-ki-lungka
Pediksan Sesepuh abad ke 14 - caka tahun ke 61 - bulan ke 11 -hari ke 15,caka warsa 1361 atau 1439 Masehi.Selama menjadi Sesepuh Paguron Suling Dewata, Ki Wela menulis 2 (dua) buah buku ilmu silat, yaitu : Ilmu Silat 8 watak dan Kitab Ilmu Silat Tidur, Ki Wela membina puluhan yogi dan Yogini , namun jumlahnya tidak begitu banyak bila dibandingkan dengan siswa pada generasi sebelumnya , dari puluhan Yogi dan Yogini tersebut yang dibina ada 7 (tujuh) orang yang ternama dan sering membantu dan mengurus Perguruan yaitu : Ki Lungka, Ki Kubakal, Ni Taruni, Ni Nguli, Ki Panorajon, Ki Blangkang, dan Ki Togog.

8. Sesepuh Generasi VII – Ki Lebur

8-ki-lebur
Pediksan Sesepuh abad ke 16 - caka tahun ke 46 - bulan ke 11 -hari ke 15 (caka warsa 1546).

9. Sesepuh Generasi VIII – Ki Sendang

9-ki-sendang
Pediksan Sesepuh abad ke 19 caka - tahun ke 24 - bulan ke 7 -hari ke 21 (Caka Warsa 1824)Ki Sendang menulis dan menciptakan 72 sikap yang diambil dari 72 kitab pusaka, dimana masing masing sikap terdiri dari 5 gerakan silat, Ki Sendang adalah Guru langsung dari sesepuh sekarang Ki Nantra, dimana selama 14 tahun telah dengan sabar membimbing Ki Nantra dan menurunkan semua ilmu yang di kuasai dengan tujuan mewariskan Tradisi luhur masyarakat Bali Dwipa yang bersumber dari Tradisi Watukaru.

10. Sesepuh Generasi IX – Ki Nantra

10-ki-nantra
Pediksan Sesepuh abad ke 19 caka, tahun ke 99-bulan ke 7-hari ke 19 (caka warsa 1899)Drs I Ketut Nantra , adalah sesepuh Generasi IX, Paiketan Paguron Suling Dewata, beliau mewarisi ilmu dari sesepuh Generasi VIII, Ki Sendang, yang beliau sering panggil sebagai Pekak Wayan Sendang, Ki Nantra dibawah bimbingan Ki Sendang berhasil menguasai 72 kitab pusaka yang berisi ilmu silat tingkat tinggi dan maharahasia selama kurang lebih 14 tahun. Ki Nantra dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana, pendiam, dan bersahaja. saat ini beliau tercatat sebagai guru pada SMP 1 kerambitan. Ditangan Beliau-lah peninggalan warisan luhur Paiketan Paguron Suling Dewata kembali di kembangkan ke masyarakat dengan harapan agar nantinya ilmu yang adi luhung dan Maha Rahasia ini kembali berkembang dan tidak sampai punah. Disamping telah berhasil mengembangkan 21 cabang dari 72 cabang yang terdapat dalam perguruan Seruling Dewata, beliau pula mengembangkan suatu Meditasi yang di kenal dengan nama Meditasi Kanda Pat yang dikenalkan sebagai Cabang ke 73 Perguruan Seruling Dewata, dan mulai mengenalkan Yoga yang semuanya bersumber dari Pustaka Perguruan Seruling Dewata. beliau sangat aktif mengunjungi mandala-mandala baik yang berada Bali maupun yang berada di luar Bali seperti Jawa, Lombok, Sumbawa, serta Timor Leste, Beliau dengan segala kerendahan hati selalu menyempatkan diri bertemu dengan siswa beliau serta memberikan siraman rohani, tuntunan hidup, serta filsafat hidup.